Parsoburan, Batak Pos (2/11)Sekitar 250 orang melakukan aksi unjuk rasa di halaman kantor Lurah Parsoburan Tengah, kemarin. Dalam aksi tersebut, massa yang mengatasnamakan Solidaritas Masyarakat Parsoburan Tengah menuntut agar penggantian Lurah Parsoburan Tengah segera ditinjau ulang. “Kami sangat kecewa atas penggantian Lurah. Mana mungkin kami akan dipimpin seorang Lurah yang bukan warga asli Parsoburan,” tegas Bernard Manurung, juru bicara aksi. Dia menambahkan, penggantian Lurah dari Marulitua Pardosi ke S Nainggolan merupakan sebuah bentuk pelecehan terhadap marga Pardosi di Parsoburan. “Saya sendiri bukan bermarga Pardosi, tetapi saya sangat tidak setuju jika Lurah yang memimpin kami bukan bermarga Pardosi,” katanya kepada
Batak Pos.Dia menjelaskan, jika Parsoburan dipimpin Lurah di luar marga Pardosi, tentu hal itu akan sangat mempengaruhi kinerja Lurah itu sendiri. Sebab, sambung Bernard, sebagai seorang yang masih asing di Parsoburan, Lurah S Nainggolan tentu saja akan kesulitan ketika menemui masalah di lapangan. “Intinya kami menolak penggantian Lurah, kami menuntut agar Lurah yang lama tetap dipertahankan,” katanya.
Hal senada juga diungkapkan Desli Pardosi, putera asli Parsoburan Tengah. Bahkan, jika pelantikan Lurah tersebut tetap dipaksakan, ia memastikan seluruh masyarakat Parsoburan khususnya marga Pardosi akan dengan tegas melakukan penolakan. “Yang pasti, seluruh marga Pardosi di Parsoburan sangat kecewa atas penggantian itu. Makanya, jika Lurah tetap diganti, marga Pardosi tidak akan mengakui Lurah yang baru,” katanya. Bukan itu saja, tambah Desli, sang Lurah baru juga dipastikan tidak akan mendapat pengakuan secara adat. “Jika ada pesta adat, maka jambar untuk Lurah akan ditiadakan. Ini sebagai bentuk protes kami terhadap pemerintah Tobasa,” tukasnya.
Untuk itu, Desli meminta agar Bupati Tobasa tidak memaksakan penggantian Lurah tetapi lebih memperhatikan stabilitas masyarakat setempat. “Dalam sejarah Parsoburan, baru kali ini Lurah berasal dari marga lain. Ini sangat tidak masuk akal,” tutur Desli. Ia juga mengaku khawatir, penggantian Lurah bisa berdampak terhadap perkembangan sekaligus kinerja Lurah yang baru.
Sementara itu, gelombang penolakan terhadap penggantian Lurah di Parsoburan Tengah juga datang dari IMPJ (Ikatan Muda-Mudi Parsoburan SeJabodetabek). Sebagai organisasi kepemudaan yang independen, IMPJ menilai bahwa penggantian Lurah di Parsoburan Tengah sudah keluar dari jalur etika politik. “Saya sangat memahami gejolak politik pascapilkada. Akan tetapi, alangkah baik jika posisi Lurah tidak usah dibongkar pasang. Ini sangat menyedihkan. Ternyata, semangat otonomi daerah belum dipahami dengan baik. Apalagi, sebagai marga yang paling tua di Parsoburan, Pardosi seharusnya mendapat tempat yang lebih pantas,” tandas Ishak H Pardosi, Ketua IMPJ di Jakarta.
Seperti diketahui, pasca kemenangan Kasmin Simanjuntak dan Liberty Pasaribu sebagai Bupati dan Wakil Bupati Tobasa, sejumlah pejabat di lingkungan Tobasa langsung dimutasi.
Dimuat di Batak Pos tanggal 3 Nopember 2010